Paper.wf

[Alka]

Jadinya hari ini kita liburan bertiga. Keraguanku tentang Dira yang merasa tak nyaman dengan kehadiran Raisya, perlahan sirna begitu saja. Apalagi selama berkeliling akurium, aku bisa melihat tangan kecil Raisya yang selalu bertaut dengan tangan Dira.

Sungguh suatu pemandangan yang menghangatkan mata.

Belum lagi, jika melihat dan mendengar interaksi mereka. Dira yang selalu berusaha memelankan suaranya saat berbicara, lalu matanya yang selalu menatap Raisya, jika si gadis itu mulai bercerita dan berceloteh.

Ya Tuhan, Kenapa banyak sekali gula hari ini...

Karena kehadiran Raisya hari ini, kita sepakat untuk memilih tempat lain yang lebih nyaman bagi anak- anak, dan tentu saja kita juga melibatkan Raisya dalam diskusi ini. Akhirnya berbincang cukup lama, kita memutuskan untuk mengunjungi Neo Park Okinawa, tempat dimana kita bisa belajar tentang satwa liar dan tumbuhan langka.

Setelah beberapa jam memutari taman, Aku dan Dira memilih beristirahat sebentar sedangkan Raisya memilih untuk bermain bersama anak- anak lain. Kita berdua duduk di tempat yang tak begitu jauh dari area bermain, sehingga kita sembari rehat, kita juga tetap bisa memperhatikan Raisya.

“Sori ya hari ini gue gagal lagi soalnya walaupun kita barengan, tapi gue sibuk jagain Raisya. Pasti lo bete kan enggak ada temen ngobrol?” kata Dira seusai meminum air mineral.

“Kok harus minta maaf sih.. Gue enggak bete sama sekali. Justru seneng banget liat kalian berdua tuh. Kayak beneran hubungan ayah sama putri kecilnya.”

“Yaudah nanti pulangnya kita langsung buat, biar enggak cuma kayaknya.. Tapi jadi beneran.” candanya yang membuat aku mencubit pinggangnya pelan.

“Yang kayak gitu, enggak boleh dijadiin becandaan. Gue enggak suka.”

Dia yang dicubit bukannya mengaduh malah tertawa cukup keras. “Iya deeh.. maaf...”

“Oh ya terus liat nih, gue tadi fotoin kalian terus. Maaf ya kalo gue enggak minta ijin... Enggak kuat lucu banget soalnya.” sambungku lagi seraya mendekat dan memperlihatkan beberapa foto yang aku ambil.

“Gue mau marah sih karena lo enggak bilang.... Tapi karena fotonya bagus, enggak jadi deh marahnya.. Cumaa..”

Selama beberapa detik kata-katanya menggantung begitu saja, dia tersenyum sebelum melanjutkan perkataannya.

“Pasti lebih bagus kalo ada lo juga di foto- foto itu. Biar lebih kerasa kalo kita keluarga sungguhan.”

Aku langsung mengalihkan pandanganku dari Dira, kemudian mulai memperhatikan anak-anak yang sedang bermain.

“Keluarga.. gue bisa enggak ya punya itu?”

Aku menghembuskan napas panjang setelah mengungkapkan hal itu. Walaupun aku tak sedang bertatapan langsung dengan Dira, aku bisa merasakan jika dia tengah menatapku lebih dalam.

“Kalo boleh jujur, gue tuh enggak takut sama yang namanya menikah. Tapi gue takut proses yang terjadi setelah itu. Buat gue justru menikah itu salah satu konsep terbaik yang Tuhan sarankan ke umatnya. Kayak yang lo pernah bilang, kalo dunia ini terlalu besar untuk manusia sekecil kita, makanya kita perlu orang lain buat saling bergantung dan bersandar. Dan Tuhan udah ngasih jalan keluar atas masalah itu lewat 'menikah'. Apalagi saat gue bisa liat penerapan konsep itu di orang tua gue. Gue beneran bisa ngerasain kalo cinta yang sebenernya itu saling menjaga satu sama lain. Jujur sih gue selalu iri kalo inget apa yang dilakuin sama orang tua gue. Dan makin bertanya- tanya sama diri gue, apakah mungkin suatu saat nanti gue bisa dapet yang kayak gitu? Enggak usah sama percis, setengahnya juga kayaknya itu cukup. Eh.. tapi balik lagi ya yang namanya manusia mah enggak mungkin ngerasa cukup.”

“Tentang yang apa gue takutin, bukan soal adanya perceraian atau orang ketiga. Tapi lebih ke perpisahan yang sesungguhnya. Lo juga tau kan Dir, salah satu tujuan dari menikah itu punya keturunan. Dan gue takut saat gue punya mereka, takdir nyuruh gue buat berpisah dari mereka. Berpisah buat enggak bisa bertemu lagi. Kayak yang gue alamin sekarang yang ngebuat terlalu banyak skenario buruk di otak gue tentang hal itu. Kayak apakah mereka bisa kuat? Gimana mereka melanjutkan hidup tanpa gue?.. atau ketakutan kalo mereka hidup bakalan kayak gue. Terus gimana kalo nanti hidup mereka lebih buruk dari yang gue alamin. Gue setakut itu, Dir”

Aku berhenti bercerita beberapa saat. Setelahnya kuputuskan untuk menoleh ke arah Dira yang duduk disamping kiriku. Saat itu juga aku bisa merasakan dia menatapku dengan tatapan sendu.

“Gue beneran setakut itu.” kataku lagi setelah mata kami bertaut cukup lama.

Awalnya tak ada yang berbicara sampai akhir aku mendengar kata- kata ini dari mulutnya.

“Gue minta ijin peluk lo ya, boleh? Sebentar aja..”

Entah bagaimana aku menurut dan mengangguk pelan, aku mulai tersadar saat tau-tau tangan besarnya sudah menarikku ke pelukannya.

“Makasih udah cerita banyak hari ini.. Gue enggak tau harus ngomong apa karena gue enggak ada diposisi lo. Cuma gue kayaknya harus bilang ini deh, lo itu hebat banget, Ka. Dan perlu semua ketakutan dan keraguan yang lo punya juga wajar kok. Makasih juga karena udah pilih gue jadi tempat lo bercerita.”