don’t swerve — gyuhao 🔞

tags: unprotected sex, creampie, dirty talk, and they were ROOMMATE.


tata krama sebelum masuk ke kamar seseorang itu adalah ketuk pintunya terlebih dahulu. bahkan untuk seorang roommate sekalipun. itulah yang seharusnya dipelajari mingyu sejak awal sebelum ia mendapati pemandangan di depan matanya saat ini.

minghao, yang setengah telanjang, sedang berusaha mengambil gambar provokatif —lagi —di atas tempat tidurnya. namun, bagian yang paling mengejutkan bukan itu. ia sudah melihat minghao bertelanjang dada lebih dari yang bisa ia hitung.

kali ini ia mengenakan bralette berenda warna hitam dan kakinya dibalut stocking warna senada. dia terlihat sangat seksi dengan sedikit sapuan makeup di matanya. sungguh, yang akan mendapat kiriman gambar dari keadaan minghao saat ini adalah orang yang paling beruntung sedunia. yang mana membuat mingyu sedikit iri.

oke, tidak sedikit, tapi sangat iri.

oh, fuck. mingyu harus berpaling sekarang.

mingyu berdeham untuk menyembunyikan kegugupannnya saat ia beradu tatap dengan empunya kamar.

namun bukannya raut wajah terkejut yang ia dapatkan pada minghao, tetapi ia malah sedikit terpana dan tersenyum kecil.

“mingyu? you caught me in a bad time, i guess.”

mingyu menelan ludah. baik, ia tidak merasakan ada penolakan, jadi ia tetap tenang dan melangkah masuk.

“itu, gue pinjem alat pembolong kertas ada gak? lo punya kan?”

minghao mengangguk kecil sambil menunjuk ke arah mejanya. “iya, ada di atas situ cari aja.”

mingyu pun melangkah mendekati meja untuk mengambil apa yang ia inginkan. dan tentu saja, ada saja cara terbaik semesta untuk mempermainkannya.

ia menemukan botol lube yang tertutup tidak sempurna di atas meja minghao. ia berusaha mengabaikannya namun apa daya, dirinya terlahir ceroboh. botol lube itu terjatuh ke lantai saat ia hendak mengambil alat pelubang kertas.

mingyu menggigit bibirnya. ia tidak tahu apa yang mendorongnya tetapi ia melirik minghao yang sedang duduk di atas tempat tidur, menatapnya dengan pandangan yang tidak terbaca. membuat mingyu cepat mengambil botol itu dan menekan tutupnya rapat.

“k-kurang rapet lo nutupnya. untung ga tumpah,” ucap mingyu. fuck, what am i saying?!

minghao malah tertawa. “well, thanks. udah lo minjem itu doang?”

mingyu mengangguk, merasa kalau ia membuka mulutnya sekali lagi, ia hanya akan mempermalukan dirinya lebih jauh.

“gue balik dulu—“

“eh, gyu. siniin botolnya tadi.”

“hah?”

“lemparin botol lube ke gue. gue males turun.”

tubuh dan otak mingyu seakan berjalan dengan auto pilot. bedanya, perintah minghao menyuruhnya untuk melempar tidak ia laksanakan. ia malah memberi botol yang dimaksud tepat ke tangan minghao.

“oh, makasih.”

keduanya saling menatap dengan pandangan membara. mereka sama-sama tahu dalam hati apa yang sedang mereka lakukan. berdansa di atas batas tipis yang sebentar lagi akan hancur jika salah satu dari mereka ada yang berani mengambil langkah.

“lo mau ngambil foto lagi?” bisik mingyu dengan nada rendah.

minghao mengangguk pelan. “hm hm.”

“buat… seokmin?” gigi mingyu bergertak.

minghao mengulas senyum tipis. “kenapa emang? fwb-an gue cuma dia.”

mingyu mendengus sebal mendengar istilah itu. sejujurnya term fwb tidak cocok di konteks seokmin dan minghao. mereka lebih pantas dipanggil “strangers with benefits” atau sejenisnya.

karena kalau benar-benar friends, harusnya mingyu yang menempati posisi itu.

“show me.”

hening menyelimuti.

“you wanna?”

“hm.”

minghao tersenyum. ia mengambil posisi di tengah tempat tidur dengan kaki terbuka. lelaki kurus itu membuka tutup botol lube dan menuangkan isinya ke jari-jari lentiknya. kemudian ia turunkan celana dalam yang ia kenakan hingga ke paha. perlahan jarinya menelisik ke arah dalam lubangnya, membuatnya mengeluarkan erangan lemah.

mingyu memerhatikan teman sekamarnya itu dengan tatapan intens. ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. matanya bergerak seolah tak fokus harus melihat ke wajah minghao atau ke tangannya yang sedang beraksi keluar masuk dengan lihai. saat sudah empat jari yang terlibat, ia pun maju untuk menghentikan gerakan tangan minghao.

“can i?”

“sure.”

saat mingyu menyentuh permukaan lubang yang sudah sangat basah, menggoda untuk segera dimasuki, roommatenya itu berkata,

“gyu, gak usah pelan-pelan. gue udah capek nunggu lo.”

mingyu terkesiap dan tanpa pikir panjang ia menanggalkan seluruh pakaiannya dan segera menggesekkan kepala kejanatanannya di pembukaan minghao, membuatnya menarik napas.

“lo yakin? karena gue beneran gak akan berhenti habis ini sekalipun lo memohon.”

minghao melengkungkan dadanya. pahanya ia buka lebar-lebar sambil membuka, mempertontonkan analnya seolah siap untuk melahap apa yang dipunyai mingyu. “please gyu. lo udah lama nahan kan? sama, gue juga. please, fuck me. deep and hard. i wanna feel you.mau punya lo jauh di dalem gue sampe gue rasain itu di perut. wanna feel your hot and creamy cum inside too. ahh—pasti nikmat banget nyatu di badan gue, lengket, gak akan ilang cuma sekali mandi—“

mingyu tidak membiarkan minghao menyudahi kalimatnya sebelum ia menyerang lubang minghao tanpa ampun seperti pernyataannya sebelumnya.

“fuck, hao—lo arghhh— gila. sumpah, sesempit ini—“

“tadi kan cuma pake jari gue. kurang…” minghao whimpers.

mingyu sudah hampir kehilangan akal. yang ia rasakan di sekujur tubuhnya sangat hangat, sangat lunak, memanjakan kejantanannya dengan eratan kuat. ia mendorong dengan segala kekuatannya untuk menjamahi titik ternikmat minghao.

“ah— gyu, terus, di situ, ermmmh, fuck.” racau minghao. tubuhnya tersentak tidak berdaya di atas kasur yang berderit dan mengenai tembok berulang-ulang akibat dorongan keras mingyu.

“kemana aja kita, kalo lo enak gini harusnya udah dari lama.”

“gue udah ngodein lo dari lama. lo nya aja yang gak peka!”

mingyu tertawa, “maafin. gue kan mencoba memiliki pertahanan. walau akhirnya runtuh juga gara-gara lo yang nakal.”

“gue gak nakal, lo gak gerak sih.”

mingyu menanggapinya dengan mendorong pinggangnya lebih dalam dan dengan sudut yang berbeda. minghao hampir teriak saat mingyu berulang kali mendesak prostatnya. tempat pertemuan tubuh mereka sudah tidak karuan bercampur antara keringat, lube, dan precum.

“udah deket?”

minghao mengangguk.

“lo bisa tanpa disentuh?”

“hi—iyaah. just keep fucking me, i no longer can resi—ahhh mingyu!”

minghao berteriak ketika ia klimaks. ia tidak bisa mendengar apapun lagi yang terjadi di sekitarnya dan hanya membiarkan mingyu terus menerus menggempurnya hingga ia mengisinya dengan cairan hangat putih darinya.

mingyu berdiam sementara hingga ia rasa energinya telah kembali, baru ia bangkit melepaskan diri dari minghao. pandangannya terpaku kepada selangkangan mereka di mana jejak sperma menetes keluar dari lubang minghao. jemarinya perlahan mengembalikan tetesan ke arah sebaliknya, mencuatkan cicitan lemah dari sang roommate. “ah, jangan ah—“

“nggak kok. cuma mau… biar lo inget terus.”

minghao manages to let out a breathy laugh. “apa sih…”

“biar lo inget kalo ada gue—pernah di dalem lo.” mingyu menundukkan diri untuk mengecup tulang rusuk minghao lembut. pelan ia naik ke atas, hingga menyentuh pertemuan antara leher dan rahang roommatenya itu.

minghao pun meraih sisi wajah mingyu dan mengelusnya. ia tersenyum. “kalo begitu, kayaknya gue butuh reminder lebih banyak lagi.”

keduanya pun menyeringai bersama dan saling mempertemukan bibir mereka dalam satu ciuman panas yang baru akan menjadi awal yang baru bagi mereka.