gyuhan nsfw one shot 🔞

tags: hate sex, rough sex, clothed sex, heavy degradation, violence, they are enemies (in the literal sense), no aftercare.


napas yang berderu, pintu yang setengah terbuka, kancing baju yang tidak sempurna dilepas, kaus kaki yang bahkan tidak sempat dilepas, tidak menghalangi kedua insan itu untuk saling bercumbu dengan liar. tidak ada yang lembut dari cara mereka mencabik, meremas, dan menggarit seluruh permukaan tubuh satu sama lain yang bisa mereka raih. semua rasa kesal dan marah seperti memuncak dan cara yang tepat untuk mengeluarkannya adalah dengan—

plak!

“anjing, apaan sih, han?!” mingyu berhenti untuk mengelus pelipisnya sendiri yang digeplak jeonghan.

“lo ngapain gigit-gigit leher, goblok. besok gue ada pemotretan.”

“ya bisa kan ngomong aja gak usah pake geplak segala. tai lu.” kini giliran mingyu menoyor kepala jeonghan. “lo juga pernah ya ngasih cupang di dada waktu gue pemotretan yang harus ngeliatin dada. impas lah sekarang—“

“gak ada ya tolol. bisa didepak gue dari kontrak jangka panjang sama banila.”

mingyu menyeringai. “ya elah. kalo diancem didepak tinggal ngangkang lagi buat director marketingnya. like you’ve always done with past brand deals, kan?”

jeonghan menggerutu. “bajingan.”

“ayolah. mana ada agensi lo bisa ngasih brand deals skincare high-end, photoshoot sama A-class celebrity kalo gak pake jalur selangkang—“

“diem lo.”

“or what? fakta kan?”

kini keduanya saling bertatapan. jeonghan berada di bawah kungkungan badan mingyu. ditatapnya model rivalnya itu dengan penuh api kebencian yang seandainya bisa diluapkan maka sudah terbakarlah isi ruangan apartmentnya.

mingyu menurunkan kepalanya untuk mengendus pipi jeonghan dan berbisik. “ayolah, han. udah jadi rahasia umum kalo lo itu lonte industri model. jangankan director, model rookie aja juga pernah lo tidurin demi eksistensi lo, kan? hahah, murah.”

jeonghan menelan ludah. “berarti lo juga murah dong, mau tidur sama gue?” tantang jeonghan.

mingyu laughs condescendingly. ia meraih rahang jeonghan dan mencengkeramnya agak kuat. “kalo gue murah, lo apa? barang loak? lagian orang-orang gak akan percaya kalo lo bilang lo pernah tidur sama gue. tapi kalo sebaliknya, mereka bakal mikir ‘oalah pasti lah, si yoon jeonghan kan murah’. sampe sini paham perbedaan kita?”

jeonghan’s blood boils hearing the words from mingyu’s mouth. he has half a mind to spit on his face but he refrains himself.

“buka celana lo.” perintah mingyu. “bajunya biarin, atau buka terserah lo.”

jeonghan memutar kedua bola matanya. “plin plan”

“bacot. cepet.”

setelah selesai menanggalkan pakaian dan celananya, mingyu juga membuka ritsleting celananya namun hanya menurunkannya hingga ke paha.

“balik badan lo.” titah mingyu lagi.

jeonghan tidak punya tenaga lagi untuk mengelak. ia membalik badannya untuk berbaring di perut. ia merasakan pinggangnya ditarik hingga ia berada di lututnya dengan bokong di atas. ia mendengar suara botol lube dibuka dan isinya dicurahkan. lalu dengan kasar, mingyu melesakkan masuk jari tengahnya ke dalam jeonghan, membuatnya terperanjat. tak berapa lama, ia memasukkan lagi jari kedua, lalu ketiga, menggerakkannya tanpa henti dan memutarnya hingga jeonghan mengerang kesakitan.

“mingg—gyu akhhh, pelanin— anjirrr hhhh.”

“udah terima aja. belom juga gue masukin, kaget nanti lo.”

“sakiiiit—“

“nanti juga enak kan lo.” mingyu merendahkan dirinya lagi untuk berbisik di telinga jeonghan. “lonte tuh terima aja. gak ada gunanya lo ngomong terus.” mingyu mengelus rambut jeonghan dengan lembut. kontradiksi dengan lontaran kejam dari mulutnya. “oke?”

model kenamaan itu menarik dirinya sejenak untuk memakai kondom di kejantanannya. ia baluri lagi dengan cairan lube sebelum ia bergerak memasuki lubang anal yang telah siap di depannya.

jeonghan memejamkan matanya rapat-rapat, suara erangan kesakitan terpecah dari tenggorokannya.

“pathetic slut. nangis-nangis tapi nagih, ya?”

mingyu mempercepat gerakan pinggulnya keluar masuk dengan sesekali berdiam untuk memutar. ia naikkan sisi dorongannya hingga ia menyentuh titik prostat jeonghan, ditandai dengan kerasnya laki-laki dibawahnya itu meraung.

racauan tidak jelas mengalir dari mulut jeonghan tiap kali mingyu menyodok tepat di titik itu. ia tarik badan jeonghan yang kurus dan lemas itu ke atas hingga punggungnya bersatu dengan dada mingyu.

“lo jangan keluar sampe gue keluar. paham?”

jeonghan sudah setengah melayang karena rasa sakit dan nikmat semuanya bersatu dan mengelabui kesadarannya. saat ia tidak menanggapi, mingyu dengan kasar meraih kemaluannya dan mencengkeramnya erat hingga jeonghan merintih kesakitan “aah—sa-sakit!”

“makanya jawab kalo ditanya—“

“iya, iya. gue tahan.”

“good.”

mingyu pun mendorong kembali jeonghan dengan kasar hingga ia berbaring di kasur. ia membenarkan posisinya lagi dan segera memasuki kembali tubuh jeonghan dengan gerakan cepat.

tak berapa lama, gerakan mingyu semakin tidak beraturan dan akhirnya ia mencapai pelepasannya. ia bergerak melambat dan akhirnya berhenti hingga seluruh cairannya keluar tertampung di kondom.

jeonghan whimpers when mingyu pulls himself out. he doesn’t even wait for jeonghan to get his climax too, nor does he care.

mingyu beranjak dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. ia keluar dengan baju yang sudah dikancing kembali dan celana yang sudah rapi pula.

“inget minggu depan jaga sikap lo pas kita jumpa pers iklan. jangan kayak tadi, sok jagoan nyindir gue di depan umum. liat apa yang lo dapet, kan?”

jeonghan sudah tidak sanggup lagi menanggapi dan hanya menggumam.

“though i know you secretly enjoyed it.”

dengan itu mingyu berlalu dan menutup pintu kamar jeonghan. setelah beberapa saat, samar-samar ia mendengar pintu depan apartment juga ditutup olehnya.