<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>nextercise</title>
    <link>https://paper.wf/nextercise/</link>
    <description>seonggok wibu yang aslinya nggak punya bakat nulis. bakatnya yapping nggak jelas ngalor ngidul yang sering banget perlu &#34;dipegangin&#34; biar stay on track.</description>
    <pubDate>Mon, 24 Aug 2026 15:37:44 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>Komunitas Hobi: Tumbuh bersama, atau Tumbuh ber-satu?</title>
      <link>https://paper.wf/nextercise/komunitas-hobi-tumbuh-bersama-atau-tumbuh-ber-satu</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Disclaimer: Apapun yang kutulis di sini murni pikiran serta observasi pribadi dan/atau pendapat dari orang sekeliling. Aku gak riset apapun sama sekali buat mendukung apapun yang kutulis. Tujuanku murni melepas uneg-uneg yang bakal jadi copypasta kalau ditulis di FB (ya nggak ada bedanya sih kayaknya hehe). Aku di sini tidak punya maksud mengubah atau bahkan merevolusi pikiran, suka-suka mau dianggap angin lalu, dianggap serangan pribadi, atau mau dijadikan bahan renungan. Toh, apapun yang kutulis di sini semua berbasiskan bias pribadi karena ga ada riset.&#xA;&#xA;  Note: Di sini aku nulis sirkel dan komunitas dalam satu konteks yang sama, &#34;perkumpulan orang-orang dengan minat dan tujuan yang sama&#34;. &#xA;&#xA;With that out of the way, here we go.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Akar aku nulis ini asalnya dari beberapa perbincangan dengan temen2 di tongkrongan yang kadang kalau udah jam tengah malam tiba2 ngomongin soal komunitas-komunitas hobi di Indonesia (yes, that &#34;obrolan jam malam vs. obrolan menjelang pagi&#34; stereotype is real. source: trust me bro).&#xA;&#xA;Harus kutekankan bener2, obrolannya nggak ada tujuan sama sekali buat melakukan pembunuhan karakter (character assassination), murni ngeluarin uneg2 dan dijadiin renungan bersama. Dan kita nggak pernah ada tujuan buat menghasut orang untuk menjauhi seseorang, nge-gaslight pun gak pernah. Udah terlalu tua buat nggiring opini seseorang, men.&#xA;&#xA;Nggak jarang kita saling adu debat tentang topik yang lagi dibahas dan nggak jarang juga bahasannya jadi panas, tapi ya debatnya nggak sampe berlarut2, ditangkap sebagai masukan dan nggak dianggap sebagai serangan pribadi. Tapi ya pada akhirnya saling ngerti, dan kondisi agree to disagree itu jadi sesuatu yang dilumrahkan.&#xA;&#xA;Buset, nulis latar belakangnya udah kayak skripsi aja. Tapi ini beneran penting banget buat mem-backup apa yang ingin aku tuliskan. Aku sangat nggak ingin tulisanku ini dijadikan senjata buat nyerang orang2 tongkrongan ini, atau orang2 yang dekat denganku. Kalo aku yang di-&#34;bunuh karakternya&#34; udah bodo amat sih. I don&#39;t have a good reputation in the first place, lmao.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Oke, balik ke topik utamanya&#xA;&#xA;Sebenernya sambatanku ini bukan yang gimana2, cuma aku notis tren di komunitas atau sirkel di medsos ini sering kali berkomposisi [ seseorang yang dianggap terpandang + orang2 yesman orbiter yang kerjanya cuma manggut2 sama apa yang dibilang oleh orang terpandang ini tanpa cek dan ricek ]. Sering kali aku mbatin, &#34;men, kayaknya komunitas atau sirkel yang ada check and balance di anggotanya itu privilege ya, padahal harusnya jadi norma&#34;.&#xA;&#xA;Apa ya, buatku pribadi, adanya sirkel ini kan sebenernya tujuannya adalah buat ngumpul dengan minat yang sama, dan harapannya tumbuh bersama. Mau di komunitas hobi/nerd sekalipun, nggak ada salahnya saling mendukung temennya buat menjadi manusia yang lebih baik, kan?&#xA;&#xA;Sebuah asumsi generalisasi yang masih kupegang sampai sekarang itu bahwa... orang Indonesia itu menganggap kritikan sebagai serangan pribadi atau usaha buat menjatuhkan (kalau ditulis di publik). Aku gak menyangkal kalau ada yang memang bermaksud seperti itu, tapi masalah utamanya, kita sering kali nggak bisa bedain intensi seseorang, jadi respon pertamanya langsung bela diri, bukan mencerna apa yang disampaikan. Minimal responsnya &#34;emang lu bisa berbuat lebih baik?&#34;, maksimal diviralin terus nyari clout buat nyerang orang yang mengkritik tadi.&#xA;&#xA;Menurutku itu nggak seharusnya menjadi respon pertama kalau dapat kritikan, ya seenggaknya dicerna dan muhasabah dulu lah. Sedih atau marah sama kritikan itu nggak apa-apa, tapi responsnya yang perlu ditinjau ulang. Nggak langsung pasang kuda-kuda, mengkretekkan jari lalu nulis esai pembelaan diri atau nge-mention anggota sirkelnya.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Ini bukan pamer atau apa, tapi pendapatku ini bukan tanpa dasar juga. Aku bisa dibilang &#34;kutu loncat&#34;. Lompat2 dari satu hobi ke hobi lain, dan sebagai hasilnya, bisa membuat observasi mengenai sirkel-sirkel, yang kutuangkan di tulisan ini.&#xA;&#xA;Takeaway yang aku dapat adalah, sirkel yang isinya yesman doang tuh cepet gede. Nyari anggota cuma butuh persuasi doang kelar. Sedangkan yang isinya orang2 &#34;kritis&#34; sering kali sepi (mungkin karena kurang marketing juga kali ya, wkwk). Aku curiga kurangnya &#34;banjir validasi&#34; dari sirkel yang banyak yesman-nya ini yang menjadi faktor kurang umumnya sirkel yang kritis ini, tapi nggak tau lagi sih, ga pernah riset.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Ngeklaim bahwa sirkelnya &#34;terbuka terhadap kritikan&#34; mah simpel banget, wong tinggal klaim, wkwk. Nerapinnya yang susah pake banget. Sirkelku yang kusebutin di latar belakang di atas juga nggak lepas dari ini, tapi ya itu juga lah pentingnya punya orang yang mampu melakukan check and balance di satu komunitas. Ngejaga orang2 buat tetep kritis dan nggak otoriter, demokratis lah istilah kerennya. *Lebih bagus lagi kalau orang ini nggak satu brainwave sama sirkelnya, analoginya kayak Yin dan Yang gitu.&#xA;&#xA;&#34;Lah yang menjaga orang yang melakukan check and balance ini siapa dong?&#34;&#xA;&#xA;Nah tinggal dibalik, yang melakukan check and balance terhadap orang ini adalah... ya anggota2 sirkel itu sendiri. Perlu kedewasaan buat saling mengingatkan satu sama lain memang.&#xA;&#xA;Lha kalau semuanya yesman terus nggak ada yang ngontrol... susah. Apalagi kalau diyakinkan bahwa apa yang dibilang oleh orang2 di sirkel ini sebagai sebuah kebenaran absolut, terus apapun balasan yang diberikan oleh orang luar sirkel langsung dianggap sebagai &#34;penyerangan terhadap kebenaran&#34;. Bisa2 semua orang yang di sana berkembang menjadi manusia2 yang anti-kritik di hidupnya, repot.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Nah, aku ngambil judul opini yang kutulis ini bukan tanpa alasan. Seperti kubilang di atas, aku berpendapat bahwa adanya komunitas hobi atau sirkel tongkrongan sekalipun, itu penting buat membentuk seseorang dalam hidupnya. Jadinya, tetap perlu orang yang melakukan check and balance ke anggota/temennya.&#xA;&#xA;Menurutku, komunitas itu tempat buat tumbuh bersama. Kalau cuma jadi echo chamber dan tutup kuping sama kritikan luar, berarti tumbuhnya cuma ber-satu ke suara mayoritas, dong?&#xA;&#xA;&#34;Halah, wong komunitas buat hepi2 doang ngapain diseriusin sih?&#34;&#xA;&#xA;Ya... kalau mayoritas hidupmu ngumpul dengan sirkel hobi, ga bisa dipungkiri hidupmu bakal dibentuk oleh sirkel (atau orang2 di sirkel) itu kan? Nggak ada salahnya. Nggak ada kok yang dirugikan dengan sama2 menjadi manusia yang lebih baik.&#xA;&#xA;Dikritik itu bukan berarti kita orang jahat.&#xA;Dikritik itu bukan berarti apa yang kita lakukan itu nggak ada artinya.&#xA;Dikritik itu bukan berarti orang meragukan diri kita.&#xA;Dikritik itu bukan berarti orang menganggap kita sebagai musuh.&#xA;&#xA;Minimal dicerna dulu, telan dulu pride, telan dulu ego. Cerna baik2, dan respon selayaknya. Setuju untuk tidak saling setuju (agree to disagree) itu lumrah kok kalau dalam hal yang nggak jelas hitam-putihnya (ya kayak kalau ada opini bahwa genosida itu hal yang buruk terus ada yang mengkritik sebaliknya sih silaturahmi tangan ke mukanya nggak apa2).&#xA;&#xA;Selain itu, nggak perlu lah manggil2 sirkel atau ngerujak berjamaah orang yang mengkritik itu, entah mainan suara mayoritas, atau mainan kuasa. Kalau kritik itu ditujukan ke sirkelnya, seenggaknya dicerna ulang, apakah itu masalah di dalam sirkelnya, atau masalah satu-dua orang.&#xA;&#xA;Aku bukan mau merasa superior atau apa gitu ya, tapi ya cuma sedih aja gitu kalau sampai ngerujak seseorang cuma karena &#34;nyenggol&#34; sirkel/orang di dalam sirkelnya. Kenapa sih hal yang seharusnya menjadi opsi paling terakhir-khir-khir malah jadi respons utama buat kritikan...&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Aku di sini tidak sama sekali bertujuan mendemonisasi sirkel atau komunitas yang seperti itu, aku tetep berharap yang terbaik. Ini cuma secuil pikiran yang aku harapkan bisa membuat sirkel atau komunitas tersebut menjadi lebih baik, gitu doang. Kalau ada yang perlu aku tambahkan mungkin aku tulis di artikel baru aja, atau entah.&#xA;&#xA;Terima kasih sudah mau membaca sejauh ini, aku senang kalau ada yang bisa dipetik dari yappingan seonggok wibu tukang marah2 ini.*&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><strong><em>Disclaimer</em></strong>: Apapun yang kutulis di sini murni pikiran serta observasi pribadi dan/atau pendapat dari orang sekeliling. Aku gak riset apapun sama sekali buat mendukung apapun yang kutulis. Tujuanku murni melepas uneg-uneg yang bakal jadi <em>copypasta</em> kalau ditulis di FB (ya nggak ada bedanya sih kayaknya hehe). <strong>Aku di sini tidak punya maksud mengubah atau bahkan merevolusi pikiran</strong>, suka-suka mau dianggap angin lalu, dianggap serangan pribadi, atau mau dijadikan bahan renungan. <em>Toh, apapun yang kutulis di sini semua berbasiskan bias pribadi karena ga ada riset.</em></p>

<p><strong><em>Note</em></strong>: Di sini aku nulis sirkel dan komunitas dalam satu konteks yang sama, “perkumpulan orang-orang dengan minat dan tujuan yang sama”.</p></blockquote>

<p><em>With that out of the way, here we go.</em></p>

<hr>

<p>Akar aku nulis ini asalnya dari beberapa perbincangan dengan temen2 di tongkrongan yang kadang kalau udah jam tengah malam tiba2 ngomongin soal komunitas-komunitas hobi di Indonesia <em>(yes, that “obrolan jam malam vs. obrolan menjelang pagi” stereotype is real. source: trust me bro)</em>.</p>

<p><strong>Harus kutekankan bener2</strong>, obrolannya nggak ada tujuan sama sekali buat melakukan pembunuhan karakter (<em>character assassination</em>), murni ngeluarin uneg2 dan dijadiin renungan bersama. Dan kita nggak pernah ada tujuan buat menghasut orang untuk menjauhi seseorang, nge-<em>gaslight</em> pun gak pernah. Udah terlalu tua buat nggiring opini seseorang, men.</p>

<p>Nggak jarang kita saling adu debat tentang topik yang lagi dibahas dan nggak jarang juga bahasannya jadi panas, tapi ya debatnya nggak sampe berlarut2, ditangkap sebagai masukan dan nggak dianggap sebagai serangan pribadi. Tapi ya pada akhirnya saling ngerti, dan kondisi <em>agree to disagree</em> itu jadi sesuatu yang dilumrahkan.</p>

<p>Buset, nulis latar belakangnya udah kayak skripsi aja. Tapi ini beneran penting banget buat mem-<em>backup</em> apa yang ingin aku tuliskan. Aku sangat nggak ingin tulisanku ini dijadikan senjata buat nyerang orang2 tongkrongan ini, atau orang2 yang dekat denganku. Kalo aku yang di-“bunuh karakternya” udah bodo amat sih. <em>I don&#39;t have a good reputation in the first place, lmao</em>.</p>

<hr>

<p><strong>Oke, balik ke topik utamanya</strong></p>

<p>Sebenernya sambatanku ini bukan yang gimana2, cuma aku notis tren di komunitas atau sirkel di medsos ini sering kali berkomposisi [ seseorang yang dianggap terpandang + orang2 <em>yesman orbiter</em> yang kerjanya cuma manggut2 sama apa yang dibilang oleh orang terpandang ini tanpa cek dan ricek ]. Sering kali aku mbatin, <em>“men, kayaknya komunitas atau sirkel yang ada check and balance di anggotanya itu privilege ya, padahal harusnya jadi norma”</em>.</p>

<p>Apa ya, buatku pribadi, adanya sirkel ini kan sebenernya tujuannya adalah buat ngumpul dengan minat yang sama, dan harapannya tumbuh bersama. Mau di komunitas hobi/<em>nerd</em> sekalipun, nggak ada salahnya saling mendukung temennya buat menjadi manusia yang lebih baik, kan?</p>

<p>Sebuah asumsi generalisasi yang masih kupegang sampai sekarang itu bahwa... orang Indonesia itu menganggap kritikan sebagai serangan pribadi atau usaha buat menjatuhkan (kalau ditulis di publik). Aku gak menyangkal kalau ada yang memang bermaksud seperti itu, tapi masalah utamanya, <strong>kita sering kali nggak bisa bedain intensi seseorang, jadi respon pertamanya langsung bela diri, bukan mencerna apa yang disampaikan</strong>. Minimal responsnya <strong>“emang lu bisa berbuat lebih baik?”</strong>, maksimal diviralin terus nyari clout buat nyerang orang yang mengkritik tadi.</p>

<p><strong>Menurutku itu nggak seharusnya menjadi respon pertama kalau dapat kritikan, ya seenggaknya dicerna dan muhasabah dulu lah.</strong> Sedih atau marah sama kritikan itu nggak apa-apa, tapi responsnya yang perlu ditinjau ulang. Nggak langsung pasang kuda-kuda, mengkretekkan jari lalu nulis esai pembelaan diri atau nge-<em>mention</em> anggota sirkelnya.</p>

<hr>

<p>Ini bukan pamer atau apa, tapi pendapatku ini bukan tanpa dasar juga. Aku bisa dibilang “kutu loncat”. Lompat2 dari satu hobi ke hobi lain, dan sebagai hasilnya, bisa membuat observasi mengenai sirkel-sirkel, yang kutuangkan di tulisan ini.</p>

<p><em>Takeaway</em> yang aku dapat adalah, sirkel yang isinya <em>yesman</em> doang tuh cepet gede. Nyari anggota cuma butuh persuasi doang kelar. Sedangkan yang isinya orang2 “kritis” sering kali sepi (mungkin karena kurang <em>marketing</em> juga kali ya, wkwk). Aku curiga kurangnya “banjir validasi” dari sirkel yang banyak <em>yesman</em>-nya ini yang menjadi faktor kurang umumnya sirkel yang kritis ini, tapi nggak tau lagi sih, ga pernah riset.</p>

<hr>

<p><strong>Ngeklaim bahwa sirkelnya “terbuka terhadap kritikan” mah simpel banget, wong tinggal klaim, wkwk. Nerapinnya yang susah pake banget.</strong> Sirkelku yang kusebutin di latar belakang di atas juga nggak lepas dari ini, tapi ya itu juga lah pentingnya punya orang yang mampu melakukan <em>check and balance</em> di satu komunitas. Ngejaga orang2 buat tetep kritis dan nggak otoriter, demokratis lah istilah kerennya. <strong>Lebih bagus lagi kalau orang ini nggak satu <em>brainwave</em> sama sirkelnya, analoginya kayak Yin dan Yang gitu.</strong></p>

<p><em>“Lah yang menjaga orang yang melakukan check and balance ini siapa dong?”</em></p>

<p>Nah tinggal dibalik, yang melakukan <em>check and balance</em> terhadap orang ini adalah... ya anggota2 sirkel itu sendiri. Perlu kedewasaan buat saling mengingatkan satu sama lain memang.</p>

<p>Lha kalau semuanya <em>yesman</em> terus nggak ada yang ngontrol... susah. <strong>Apalagi kalau diyakinkan bahwa apa yang dibilang oleh orang2 di sirkel ini sebagai sebuah kebenaran absolut, terus apapun balasan yang diberikan oleh orang luar sirkel langsung dianggap sebagai “penyerangan terhadap kebenaran”</strong>. Bisa2 semua orang yang di sana berkembang menjadi manusia2 yang anti-kritik di hidupnya, repot.</p>

<hr>

<p>Nah, aku ngambil judul opini yang kutulis ini bukan tanpa alasan. Seperti kubilang di atas, aku berpendapat bahwa adanya komunitas hobi atau sirkel tongkrongan sekalipun, itu penting buat membentuk seseorang dalam hidupnya. Jadinya, tetap perlu orang yang melakukan <em>check and balance</em> ke anggota/temennya.</p>

<p><strong>Menurutku, komunitas itu tempat buat tumbuh bersama. Kalau cuma jadi <em>echo chamber</em> dan tutup kuping sama kritikan luar, berarti tumbuhnya cuma ber-satu ke suara mayoritas, dong?</strong></p>

<p><em>“Halah, wong komunitas buat hepi2 doang ngapain diseriusin sih?”</em></p>

<p>Ya... kalau mayoritas hidupmu ngumpul dengan sirkel hobi, ga bisa dipungkiri hidupmu bakal dibentuk oleh sirkel (atau orang2 di sirkel) itu kan? Nggak ada salahnya. Nggak ada kok yang dirugikan dengan sama2 menjadi manusia yang lebih baik.</p>

<p><strong>Dikritik itu bukan berarti kita orang jahat.
Dikritik itu bukan berarti apa yang kita lakukan itu nggak ada artinya.
Dikritik itu bukan berarti orang meragukan diri kita.
Dikritik itu bukan berarti orang menganggap kita sebagai musuh.</strong></p>

<p>Minimal dicerna dulu, telan dulu <em>pride</em>, telan dulu ego. Cerna baik2, dan respon selayaknya. Setuju untuk tidak saling setuju (<em>agree to disagree</em>) itu lumrah kok kalau dalam hal yang nggak jelas hitam-putihnya (<em>ya kayak kalau ada opini bahwa genosida itu hal yang buruk terus ada yang mengkritik sebaliknya sih silaturahmi tangan ke mukanya nggak apa2)</em>.</p>

<p>Selain itu, nggak perlu lah manggil2 sirkel atau ngerujak berjamaah orang yang mengkritik itu, entah mainan suara mayoritas, atau mainan kuasa. Kalau kritik itu ditujukan ke sirkelnya, seenggaknya dicerna ulang, apakah itu masalah di dalam sirkelnya, atau masalah satu-dua orang.</p>

<p>Aku bukan mau merasa <em>superior</em> atau apa gitu ya, tapi ya cuma sedih aja gitu kalau sampai ngerujak seseorang cuma karena “nyenggol” sirkel/orang di dalam sirkelnya. Kenapa sih hal yang seharusnya menjadi opsi paling terakhir-khir-khir malah jadi respons utama buat kritikan...</p>

<hr>

<p>Aku di sini tidak sama sekali bertujuan mendemonisasi sirkel atau komunitas yang seperti itu, aku tetep berharap yang terbaik. Ini cuma secuil pikiran yang aku harapkan bisa membuat sirkel atau komunitas tersebut menjadi lebih baik, gitu doang. Kalau ada yang perlu aku tambahkan mungkin aku tulis di artikel baru aja, atau entah.</p>

<p><strong><em>Terima kasih sudah mau membaca sejauh ini, aku senang kalau ada yang bisa dipetik dari yappingan seonggok wibu tukang marah2 ini.</em></strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://paper.wf/nextercise/komunitas-hobi-tumbuh-bersama-atau-tumbuh-ber-satu</guid>
      <pubDate>Fri, 15 Aug 2025 06:27:45 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>