Roh's Thoughts

I want to fill the world with the love it never gave me.

Aku selalu percaya bahwa kebencianku terhadap dunia sudah memudar, namun ternyata semua itu hanya terpendam jauh di dalam.

Kebencian yang terpendam tersebut membuat diriku sendiri takut akan diriku, maka dari itu akan lebih baik jika aku mengisolasi diriku. Karena dengan cara ini aku tidak akan lagi menyakiti orang lain.

Namun rasanya juga sepi, membuatku bertanya-tanya seberapa lama aku bisa bertahan.

Aku selalu ingin menjadi orang baik, tapi nyatanya?

Baru ini ku menyadari bahwa semua hal buruk yang ku lakukan kepada orang lain adalah akibat aku memendam kemarahan. Rasanya seperti meledak begitu saja, tetiba semuanya sudah hancur.

Baru ku sadari juga bahwa aku belum sembuh, belum sembuh dari lukaku yang terjadi mulai dari SD-SMP-SMA, bahkan sampai aku bekerja.

Orang yang sakit tidak akan bisa menyembuhkan luka orang lain. Hanya setelah sembuhlah, maka kita juga bisa menyembuhkan orang lain.

Hurt people hurt people. Healed people heal people

To : fcfd

Bukan maksudku hanya meninggalkan centang biru seperti ini, namun aku hanya tidak siap. Aku tidak ingin kembali menyakitimu, karena landak itu berduri, namun ia tidak ingin menyakiti yang berada di sekitarnya.

Mendengarmu sehat dan dalam keadaan bahagia sudah cukup bagiku, karena aku masih bisa mengingat kesedihan yang aku berikan padamu. Mendengarmu sekarang sudah bahagia, maka dari itulah aku tidak ingin datang menghancurkannya.

Aku selalu menyembunyikan feeling yang aku punya, maka dari itulah, meski aku tidak pernah mengucap sayangku, namun yakinlah bahwa itu nyata.

Kamu mungkin berpikir bahwa aku mengabaikanmu dan tidak peduli sama sekali. Namun aku peduli, dan aku hanya bisa menuliskannya di sini. Aku harap di masa depan tulisan ini bisa dibaca olehmu.

Semoga kehidupan dan dunia akan menjadi lebih baik terhadapmu, dan semoga kebahagiaan selalu bersamamu dalam setiap langkah hidupmu.

Salam~

Menceritakan rahasiaku lebih mudah daripada mengatakan perasaanku. Sebab itulah, ketika aku menceritakan rahasiaku kepadamu, itu artinya aku mempercayaimu, dan ketika aku menceritakan semua isi hatiku, itu artinya kau sudah benar-benar berada dalam hatiku.

Ku melihat teman-temanku, semuanya sudah jauh di depanku. Ada yang sudah menikah, ada juga yang sudah meniti karir hingga tinggi. Namun aku?

Maafkan aku, aku tidak bisa menjadi hebat seperti mereka. Maafkan aku karena memiliki mental yang lemah. Sejujurnya aku juga membenci diriku.

Aku tidak bisa melakukan apapun dengan benar. Aku takut dengan dunia luar. Aku takut berinteraksi dengan manusia lainnya.

Ya, seburuk itulah diriku.

Dalam hati, aku sejujurnya ingin seperti mereka. Memiliki hidup yang bahagia seperti mereka. Aku berjuang, namun lagi-lagi rasa takutku akan manusia menghalangiku.

Aku tidak tahu kapan hati dan mentalku akan sembuh, aku tahu itu akan memakan waktu yang lama. Namun aku tidak yakin akan bisa bertahan selama itu.

Maafkan aku, I'm sorry to be exist

It's time to let go spirituality, it's time to live the world as it is.

Banyak hal yang terjadi, aku selalu menghindari realita, melarikan diri mendalami spirituality. Tapi sekarang, yang ku inginkan hanyalah hidup. Hidup yang bahagia.

Aku selalu memisahkan diriku dari manusia lain, merasa diriku berbeda. Sebenarnya aku sama dengan mereka di luar sana, tidak ada bedanya.

Aku manusia, mereka juga.

Saatnya hidup, sebagaimana manusia hidup.

Sangat lelah, memang sangat lelah. Namun aku harus bertahan. Sebentar lagi, karena tujuan akan tercapai. Sedikit demi sedikit.

Dalam hidup ini aku tidak tahu apa tujuan hidupku. Aku tidak tahu kenapa aku memilih untuk tetap hidup. Jiwaku sudah padam, hanya tersisa cangkang.

Setiap harinya terasa sama. What's there to life for?

Yang kutahu, dalam hidup ini aku hanya ingin 'Mencintai dan Dicintai,' Dicintai dari luar hingga dalam. Tidak hanya tubuh atau topengku, namun jiwaku, pemikiranku serta mimpi-mimpiku.

Tapi itu hal yang tidak mungkin bukan?

Sepi, sungguh sepi. Sesak, sungguh sesak.

Aku tenggelam, mimpiku padam. Apa yang sebenarnya ku inginkan? Akupun tak tahu.

Ingin bahagia, tetapi bagaimana?

Too different to be loved

Waktu berlalu sangat cepat. Semua orang berlari di depan. Sementara aku berada di belakang. Hanya bisa menatap dalam kesepian.

Ingin bisa bersama seseorang. Namun kenapa menyukai kesendirian. Pada akhirnya meraskan kesepian. Yang terasa menyakitkan.

To : Febiola Cindi Fatika Dita

Maaf, maaf atas apa yang telah terjadi di antara kita. Semua itu merupakan salahku.

Aku tidak tahu apakah kamu akan membaca tulisan ini pada suatu hari nanti. Aku tidak tahu..

Aku tahu bahwa kamu sangat sakit hati akan apa yang telah kukatakan pada dirimu.

Aku tidak apa-apa jika kamu tidak ingin menerima permintaan maafku.

Aku hanya ingin memberitahumu, yaitu : Bahagialah!

Aku tidak pernah menyalahkanmu atas apa yang terjadi, aku ingin kamu membebaskan dirimu dari semua masalah di antara kita.

Tidak perlu lagi mengingat ingat apa yang telah terjadi, jikapun kamu mengingatnya, ingatlah bahwa kamu tidak bersalah sedikitpun.

Terimakasih atas segalanya.

Bahagialah, keluar dan temui dunia. Bersinarlah, buatlah orang bahagia, sebagaimana kamu dulu membuatku selalu bahagia.

Berada dalam gelap, merasakan kesedihan.

Cahaya datang, terangi kehidupan.

Warna datang, hiasi cerita hidup.

Senyum datang, lahirlah kebahagiaan.

Kesalahan diri, hancurkan cahaya.

Cahaya meredup, sepi datang.

Mengharapkan kembalinya cahaya, sungguh tak pantas.

Terbanglah cahaya, menuju kebahagiaan.