[Seri Ketuhanan] Tuhan yang Kesepian

Disclaimer : Cerita ini terinspirasi dari sebuah cerita pendek yang berjudul “The Egg” oleh Andy Weir, tentu saja dengan beberapa perubahan dalam sistem ketuhanan tersebut.

Di antara keberadaan dan ketiadaan, Tuhan menatap segala sesuatu di depannya dengan kosong. Tidak ada emosi sedikitpun terdapat dalam kesadaran utama yang murni tersebut.

Tuhan mengedipkan matanya, lalu terlewatilah jutaan eons. Jutaan eons kembali terlewati dalam kesunyian dan kekosongan, tidak ada suatu hal apapun yang terjadi dalam masa tersebut. Lalu tiba-tiba,

Doom!

Tuhan menghancurkan dirinya, sehingga mengakibatkan keberadaan dan ketiadaan melebur menjadi satu. Peleburan keberadaan dan ketiadaan ini akhirnya menghasilkan ruang, sehingga akhirnya waktu mulai berjalan.

Tapi apakah Tuhan benar-benar menghancurkan dirinya? Ataukah ia menjelma menjadi bentuk yang lain?

Masa demi masa berlalu, sehingga akhirnya ruang mulai mendingin. Awan kabut menyelimuti semesta, memenuhi ruang semesta dengan warna kelabu.

Awan kabut mulai menarik satu sama lain, menciptakan massa yang lebih besar. Ruang membengkok seiring dengan bertambahnya massa, menciptakan gravitasi, ibu dari segala ciptaan.

Di antara kelabunya semesta, cahaya mengintip dari awan kabut, menandai lahirnya bintang pertama di alam semesta.

Organisme pertama lahir, menandai lahirnya kembali Tuhan yang kini menjelma menjadi organisme sel tunggal. Tidak seperti sebelumnya, ia kini mempunyai kesadaran yang terbatas, tidak mempunyai kecerdasan sama sekali.

Tuhan lahir dan mati selama ribuan jutaan kali, seiring dengan bertambah banyaknya organisme sel tunggal lain yang muncul. Semua organisme tunggal tersebut, lain dan tidak bukan merupakan Tuhan sendiri.

“Organisme tunggal lahir dan mati jutaan kali, begitupun pula Tuhan lahir dan mati jutaan kali.”

Organisme tunggal berubah menjadi organisme yang lebih kompleks, menandai lahirnya era hewan dan tumbuhan.

Seekor ulat hijau kecil dengan senangnya berjalan di atas batang tanaman, ia memandang semua daun tanaman tersebut dengan bahagia, seolah ingin memakan dan memasukkan semua daun tersebut ke dalam perutnya.

Tuhan menarik tubuhnya menuju dedaunan, ingin segera memakan daun tersebut, agar ia bisa segera bersiap menghadapi musim dingin yang panjang.

Tuhan menatap bunga kecil di antara tanaman tersebut, merasa tertarik dengan daunnya yang terlihat segar, jika ia memakannya, ia akan merasa puas dan kenyang.

Pada akhirnya, ulat kecil tersebut memakan semua daun tanaman yang ada, namun sayangnya ia tidak berhasil melewati musim dingin yang sangat keras.

Tuhan mati, dan ia terlahir kembali menuju lini waktu yang berbeda, kali ini ia terlahir menuju waktu lampau.

Kini, ia menjelma menjadi bunga kecil yang sedang dengan senangnya menyerap cahaya matahari. Ia tidak bisa melihat karena tidak memiliki mata, namun itu bukanlah masalah yang besar baginya, karena ia masih bisa merasakan sekelilingnya dengan sangat jelas.

Dedaunannya yang terlihat mirip dengan daun putri malu, kini bergerak-gerak diterpa angin yang lembut, menampakkan pemandangan bunga yang terlihat mempesona. Daun tersebut berwarna hijau segar, dan tampak semakin hijau di bawah hangatnya sinar matahari.

“Oh, apa itu?” pikir bunga kecil tersebut dengan gelisah, ketika merasakan ada sebuah makhluk yang kini sedang merambati daun-daunnya.

Ulat hijau kecil tersebut bergerak dengan bersemangat menuju tanaman bunga, bersiap untuk memakan daun-daunnya guna untuk melewati musim dingin yang panjang.

Memang, tanaman bunga tersebut tidak dapat merasakan sakit, namun ia merasakan bahwa daun-daunnya yang hijau kini mulai digigiti hingga habis.

Tanaman bunga tersebut akhirnya menyerah dan putus asa, dan membiarkan kematian mendatangi dirinya.

“Dua inkarnasi Tuhan saling bertemu, ia terlahir kembali sebagai ulat hijau dan tanaman bunga.”

Manusia akhirnya muncul dalam peradaban, diikuti oleh munculnya berbagai peradaban dan kerajaan yang berdiri dan hancur berulang kali. Kehidupan demi kehidupan berlalu dengan cepat, waktu berlalu tanpa disadari oleh manusia.

Patala adalah seorang pria dengan seorang anak, namun walaupun ia merupakan seorang ayah, namun ia bukanlah seorang ayah yang baik.

Seperti yang bisa ditebak, Patala merupakan inkarnasi Tuhan yang entah ke berapa, entah yang ke jutaan milyar kalinya, atau mungkin entah sudah tak terhitung berapa kalinya.

Tentu saja Patala tidak menyadari bahwa dirinya merupakan inkarnasi Tuhan, yang ia tahu, ia kini hanyalah seorang lelaki yang tidak disukai tetangga dan anaknya.

Ia selalu melimpahkan semua kesalahan kepada anaknya, membuat anaknya yang tak tahu apa-apa perlahan-lahan membencinya.

“Semua ini adalah salahmu, seandainya kau tidak lahir, ibumu tidak akan mati,” katanya dengan nada lirih dan tajam, melukai hati anaknya yang saat itu masih menempuh bangku sekolah dasar.

Wening menatap ayahnya dengan penuh kesedihan, ia segera berlari menuju kamarnya. Air mata yang daritadi ia tahan akhirnya keluar. Ia menangis di sudut ruangan, ia menangis tanpa suara.

Hal ini terjadi berulang-ulang kali, sehingga pada akhirnya Wening mati rasa akan perkataan ayahnya. Waktu berlalu, kini Wening menempuh bangku perkuliahan.

Wening tidak lagi peduli dengan ayahnya, yang ia tahu, ia sekarang tidak menyukai ayahnya, mungkin saja ia sedikit membencinya, sehingga akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan rumah tersebut, membangun hidupnya dari awal.

Patala tidak merasakan sedikitpun rasa bersalah ketika melihat anaknya meninggalkan dirinya, ia tidak peduli sedikitpun.

“Jangan lupa untuk mengirim uang setiap bulannya,” kata Patala dengan nada tidak peduli.

Wening merasakan amarahnya mencapai puncak ketika mendengarnya. Namun, pada akhirnya ia menganggukan kepalanya, dan segera meninggalkan rumah tersebut tanpa menolehkan kepalanya ke belakang.

Wening memutuskan untuk memberikan uang kepada Si Tua tersebut setiap bulannya, ia melakukan hal tersebut karena ia tidak ingin berhutang sepeserpun kepadanya.

Selain tidak disukai anaknya, ia juga tidak disukai tetangganya. Kerap kali ia ditegur tetangganya dikarenakan menyetel musik keras-keras, namun ia tidak peduli sedikitpun.

Semua tetangga yang berada di sana membenci Patala, tidak hanya karena masalah volume musik, namun juga karena Patala kerap kali membuat berita dan gosip-gosip palsu, membuat mereka semua geram akan tindakannya.

Pada akhirnya, Patala ditemukan tewas pada suatu hari. Polisi berkata bahwa mereka menemukan tanda-tanda racun pada tubuhnya, sehingga kemungkinan besar Patala diracuni.

Tentu saja tidak ada yang peduli, kehidupan berlanjut seperti biasanya.

Tuhan mati, lalu ia kembali terlahir seperti biasanya. Kali ini ia tidak terlahir ke masa depan, melainkan saat ini ia terlahir menuju ke masa yang lampau.

Di kehidupan sebelumnya, ia terlahir sebagai seorang pria bernama Patala, sekarang ia mati lalu terlahir kembali sebagai sosok yang lain.

“Kau sangat cantik dan menenangkan, maka dari itu aku akan memberimu nama Wening,” kata seorang perempuan, menatap bayi di pelukannya.

Tuhan terlahir kembali ke masa yang lampau sebagai Wening, bayi tersebut menangis dengan kencang, membuat semua dokter yang berada di sana menghembuskan nafas mereka dengan lega.

Senyum di wajah Sang Ibu memudar ketika ia merasakan tubuhnya semakin melemah, ia menyerahkan bayi tersebut kepada suster yang berada di sana dengan wajah yang terlihat pucat.

Tenaga medis yang melihat hal tersebut menjadi panik, lalu segera mengerahkan tenaga mereka untuk menyelamatkan Sang Ibu, namun sayang sekali, Sang Ibu akhirnya meninggalkan mereka untuk selama-lamanya.

“Semua ini adalah salahmu, seandainya kau tidak lahir, ibumu tidak akan mati,”

Tuhan menatap ayahnya dengan sedih, ia menahan isak tangisnya, lalu segera berlari menuju kamarnya. Ia menangis di sudut ruangan, ia menangis tanpa suara.

“Dua inkarnasi Tuhan bertemu, namun pada akhirnya mereka saling membenci. Bukankah tidak ada gunanya saling membenci? Itu sama saja seperti membenci diri kalian sendiri.”

Seorang pertapa menatap langit malam sambil merenungi alasan keberadaannya, ia sedang merenungi asal muasal dirinya. Kemudian ia kembali menutup matanya, kembali meneruskan meditasinya.

Ia mendapati bahwa sekat pikiran dan panca-indra membuatnya terjebak dalam ilusi yang tiada akhir, maka dari itu ia duduk untuk mengosongkan pikirannya dan menenangkan panca-indranya.

Ia mendapati bahwa identitas dirinya merupakan salah satu yang membuatnya terjebak dalam ilusi, maka dari itu ia berusaha menghilangkan identitas dirinya, menghilangkan ilusi 'Aku'.

Panca-indranya tenang, dan buah-buah pikiran akhirnya menghilang, menyisakan kesadaran paling murni, seperti layaknya kesadaran murni pada masa awal sebelum segalanya.

Pada akhirnya ia berhasil membersihkan kesadarannya dari identitas yang selama ini memberikan ilusi tiada akhir.

Ia menatap dunia dengan berbeda, ketika akhirnya ia menyadari sesuatu :

“Semua makhluk yang berada di semesta, semua makhluk yang memiliki kesadaran, merupakan satu kesatuan. Mereka semua merupakan satu entitas Yang Esa.”

“Aku, kamu, dan semua orang merupakan satu entitas. Kita semua satu. Kita semua Esa,”

“Jika kamu ingin mencari Tuhan, maka lihatlah ke dalam dirimu,”

“God is conciousness, the conciousness then manifest into living being. It wants to experience itself,”

Tuhan mengingat bahwa dirinya pernah terlahir sebagai seekor ulat hijau, ia juga ingat bahwa ia pernah terlahir sebagai bunga kecil. Ia juga mengingat bahwa dirinya pernah terlahir sebagai Patala dan Wening.

Ia tiba-tiba merasakan kesepian, ia menyadari bahwa seluruh makhluk yang berada di semesta merupakan inkarnasi dirinya sendiri.

Semua milyaran manusia di muka bumi, semua hewan, dan tumbuhan serta organisme, merupakan inkarnasi dirinya sendiri.

~Tuhan yang Kesepian

“What's the point of fighting over something. In the end, you and I are ONE,”

“Di semesta yang luas ini, hanya ada aku sendiri,” ~Tuhan

. . .

-Rohmat Subekti

“Setiap perbuatan baik dan buruk yang kamu lakukan pada orang lain, pada akhirnya akan kembali pada dirimu sendiri.”

Ditulis pada 27 Desember 2022